Rabu, 19 Desember 2012

Perbedaan Karakter Karbu Vakum Dan Konvensional

Perbedaan Karakter Karbu Vakum Dan Konvensional

.


Karburator vakum, lebih hemat bahan bakar

Membran, kerap sobek jika sudah lama

Pada karbu manual skep bergerak dengan kabel grip gas

Spuyer antara kedua jenis karburator sama saja
.

Keuntungannya apa? “Karburator vakum bisa menyesuaikan suplai bahan bakar dan udara dengan kebutuhan kinerja mesin,” ungkap Sutrisno dari Jawa Motor.  Maksudnya, suplai bensin dan udara akan menyesuaikan dengan gerak piston alias daya sedot mesin ketika sedang bekerja.Jadi, skepnya akan bergerak naik tidak hanya mengandalkan putaran grip akselerator saja. Bisa saja putaran grip dipelintir habis, skepnya tetap akan terangkat bertahap, sesuai putaran mesinnya.
 Berbeda dengan karburator manual, throttle akan terbuka sesuai putaran grip gas, jadi bahan bakar dan udara akan tersalurkan sesuai bukaan tersebut. Meski, kebutuhan dalam ruang bakar belum memerlukannya, otomatis bahan bakar terbakar lebih banyak sehingga motor menjadi lebih boros. Akibatnya piston menjadi cepat kotor dan menimbulkan kerak di mesin.
Itulah sebabnya karburator vakum lebih irit dibandingkan dengan karburator manual. Tetapi, semua ada kelebihan kekurangannya tentu. Urusan akselerasi, pastinya karburator manual akan sedikit lebih responsif terhadap mesin ketimbang vakum yang hanya mengandalkan isapan dari piston untuk pergerakan skepnya.
“kelemahan karbu vakum ini, adalah pada membran karet vakum atau vacuum diapraghmanya “Ini memang untuk jangka waktu cukup lama, misal 3 tahun, tetapi pasti akan terjadi,” ujar Tris, setiap komponen pasti memiliki batas usia pakai, elastisitas bahan karet berkurang seiring dengan usia penggunaan.  Karena dipakai cukup lama,  membran atau vacuum diapraghma ini akan aus, bisa saja ada bagian yang sobek, meski kecil, atau juga membrannya melebar dari ukurannya. Kalau sobek, biasanya diganti dengan yang baru.Karburator vakum ini sangat bergantung pada kevakuman ruang bakar alias kekosongan udara agar bisa responsif terhadap isapan piston dari ruang bakar. Nah, hal ini berhubungan dengan membran yang ada di atas skep untuk menggerakkan skep itu sendiri.
Lantas soal jarum skep, pada karbu vakum umumnya tak perlu mengubah ketinggian jarum, karena sudah menyatu dengan selongsong skepnya. Sementara karbu manual bisa memilih ketinggian jarum skep untuk menentukan suplai bahan bakar yang diinginkan.Tetapi, soal jetting karburator sih, sama saja. “Enggak ada bedanya, sama karburator manual,” ungkap Tris. begitu pun soal setelan anginnya, sama persis dengan karburator manual. Pembeda utama hanya ada pada membran saja.
Jadi, antara Dodi dan Irfan sebenarnya tak perlu ada permasalahan, hanya tinggal penyesuaian saja. Jika ingin berkendara ekonomis, stabil buat touring dan perjalanan jauh, peduli pada emisi, sebaiknya pilih karburator vakum, sementara bila ingin tarikan sedikit responsif  bisa menggunakan karburator manual seperti pilihan Irfan, tentunya dengan resiko  borosnya bbm yang akan dikonsumsi motor.
Tentunya karakter dan gaya berkendara setiap orang juga menentukan pilihan penggunaan dua piranti penyuplai bahan bakar ini.

Selasa, 11 Desember 2012

Warna Sekring & Tegangannya

Warna Sekring & Tegangannya

Alhamdulillah ya.. sekring motor putus, dan gak bawa cadangannya pula.. ya jadinya sesuatu banget gini… siang bolong dorong motor. Kalo dipikir2 hal sepele seperti sekering kadang kita abaikan, kita jarang membawa cadangannya, padahal harganya pun gak mahal, bentuknyapun kecil jd gak makan tempat untuk disimpan.


Sekering berfungsi untuk memutus aliran listrik apabila terjadi kelebihan arus, sehingga tidak terjadi kelebihan arus yang mengakibatkan kerusakan dikomponen yang lain. Ada bermacam jenis sekering ada model tancap atau model tabung dan tipe nya juga ada yang very fast blow (mudah putus) atau fas blow (sedang) slow blow (lambat) atau very slow blow (sangat lambat). berarti sekering tugasnya blow job dong!! 
Untuk motor harian modelnya biasanya yg sekering tancap dan berukuran 10 Ampere, ukurannya biasanya sih tertulis di body sekringnya. Kalopun tidak bisa di ciri lewat warna sekeringnya,

Coklat       : 5A
Merah       : 10A
Biru           : 15A
Kuning       : 20A
putih           : 25A
Hijau          : 30A
Orange       : 40A

Jadi gak ada salahnya bawa sekering cadangan, sapa tau diperlukan dijalan, sepele gede khasiate Apalagi motor2 yg udah dimodifikasi lampu2nya, klakson dll wajib tuh bawa cadangan sekering. 

Minggu, 09 Desember 2012

Roller Rocker Arm rontok

Roller Rocker Arm rontok

 

 


Kira-kira seminggu kemaren salah seorang sahabat SF (thanks to Mas Gio) mengirimi foto mengejutkan sepasang RRA (Roller Rocker Arm) rontok setelah dipakai beberapa hari pada jupiter z yang sedang dioprek. Untuk mendapatkan informasi detail ini SF rela interlokal ke kota Malang tempat kediaman sobat SF ini. Jupiter Z ini memang sudah mengalami modifikasi dibeberapa bagian untuk meningkatkan performanya diantaranya kapasitas sudah bengkak menjadi 125 cc, serta noken as pun custom alias bikinan sendiri. Padahal menurut sobat SF ini ukuran lift noken ini ga seberapa tinggi. Saat payung klep terbuka maksimal diukur hanya setinggi 6.8 mm, bahkan mio yang pernah doi garap saja angkatan payung 8mm lebih masih sanggup kok.
Selepas itu empunya motor sudah ga berani lagi memasang part aftermarket pada tunggangannya, sebagai gantinya doi memilih RRA OEM milik honda blade. Memang agak ribet masangnya karena harus dimodif dulu agar bisa terpasang pada Jupiter, namun kekuatannya lebih baik dari produk plug and play aftermarket. Mekaniknya menjelaskan masalah jebolnya sepasang RRA tersebut disinyalir karena kualitas bahannya yang kurang baik  bukan karena settingan mesinnya, buktinya setelah dipasang RRA milik honda blade dengan settingan yang sama persis dengan sebelumnya tidak mengalami kendala apapun. Padahal RRA yang jebol tersebut disinyalir import dari Thailand loh…. Nah entah bagaimana kekuatan RRA plug N play untuk motor lain. Silahkan kalau mau menambahkan pengalaman memakai RRA atau ninggalin jejak.

Jumat, 07 Desember 2012

Jenis Kendaraan & kompresinya yang Menggunakan bahan bakar apa ?

Jenis Kendaraan & kompresinya yang Menggunakan bahan bakar apa ?



Pertamax tidak selalu menjadi hal yang baik untuk kendaraan anda sob??? Dengerkan iklan-iklan pertamax yang memberikan kelebihan ketimbang premium. Hingga dengan menyisipkan testimoni-testimoni orang-orang yang menggunakan pertamax dan telah merasakan manfaatnya. Tetapi apakah ini semua hal yang baik untuk kendaraan anda??? Mungkin artikel dibawah ini bisa membantu anda menjawab pertanyaan anda semua.

Apa Beda Bensin Premium, Pertamax dan Pertamax Plus ??

Premium adalah bahan bakar minyak jenis distilat berwarna kekuningan yang jernih. Premium merupakan BBM untuk kendaraan bermotor yang paling populer di Indonesia. Premium di Indonesia dipasarkan oleh Pertamina dengan harga yang relatif murah karena memperoleh subsidi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Premium merupakan BBM dengan oktan atau Research Octane Number (RON) terendah di antara BBM untuk kendaraan bermotor lainnya, yakni hanya 88. Pada umumnya, Premium digunakan untuk bahan bakar kendaraan bermotor bermesin bensin, seperti: mobil, sepeda motor, motor tempel, dan lain-lain.

Premium
1. Menggunakan tambahan pewarna dye
2. Mempunyai Nilai Oktan 88
3. Menghasilkan NOx dan Cox dalam jumlah banyak


Pertamax adalah bahan bakar minyak andalan Pertamina. Pertamax, seperti halnya Premium, adalah produk BBM dari pengolahan minyak bumi. Pertamax dihasilkan dengan penambahan zat aditif dalam proses pengolahannnya di kilang minyak. Pertamax pertama kali diluncurkan pada tahun 1999 sebagai pengganti Premix 98 karena unsur MTBE yang berbahaya bagi lingkungan. Selain itu, Pertamax memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan Premium. Pertamax direkomendasikan untuk kendaraan yang diproduksi setelah tahun 1990, terutama yang telah menggunakan teknologi setara dengan electronic fuel injection (EFI) dan catalytic converters (pengubah katalitik).

Pertamax
1. Ditujukan untuk kendaraan yang menggunakan bahan bakar beroktan tinggi dan tanpa timbal.
2. Untuk kendaraan yang menggunakan electronic fuel injection dan catalyc converters.
3. Menpunyai Nilai Oktan 92
4. Bebas timbal
5. Ethanol sebagai peningkat bilangan oktannya
6. Menghasilkan NOx dan Cox dalam jumlah yang sangat sedikit dibanding BBM lain

Pertamax Plus adalah bahan bakar minyak produksi Pertamina. Pertamax Plus, seperti halnya Pertamax dan Premium, adalah produk BBM dari pengolahan minyak bumi, dihasilkan dengan penambahan zat aditif dalam proses pengolahannnya di kilang minyak. Pertamax Plus merupakan bahan bakar yang sudah memenuhi standar performa International World Wide Fuel Charter (IWWFC). Pertamax Plus adalah bahan bakar untuk kendaraan yang memiliki rasio kompresi minimal 10,5, serta menggunakan teknologi Electronic Fuel Injection (EFI), Variable Valve Timing Intelligent (VVTI), (VTI), Turbochargers, dan catalytic converters.

Pertamax Plus
1. Telah memenuhi standart WWFC
2. BBM ini ditujukan untuk kendaraan yang bertehnologi tinggi dan ramah lingkungan
3. Menggunakan teknologi Electronic Fuel Injection (EFI), Variable Valve Timing Intelligent (VVTI), (VTI), Turbochargers dan catalytic converters.
4. Tidak menggunakan timbal, alias tanpa timbal.
5. Mempunyai Nilai Oktan 95
6. Toluene sebagai peningkat oktannya
7. Menghasilkan NOx dan Cox dalam jumlah yang sangat sedikit dibanding BBM lain

Motor kita baiknya diisi bensin apa ya? Ada pilihan bensin yaitu Premium, Pertamax dan Pertamax plus yang merupakan produk Pertamina,
dan ada juga bensin jenis lain dari perusahaan asing seperti Shell dan Petronas.

Mesin motor memerlukan jenis bensin yang sesuai dengan desain mesin itu sendiri agar dapat bekerja dengan baik dan menghasilkan kinerja yang optimal. Jenis bensin tersebut biasanya diwakili dengan angka / nilai oktan (RON), misalnya Premium ber-oktan 88, Pertamax ber-oktan 92 dan Pertamax Plus ber-oktan 95.

Tujuan mesin dibuat dengan perbandingan kompresi tinggi adalah untuk meningkatkan efisiensi (irit bahan bakar) dan menurunkan kadar emisi.
Semakin tinggi angka oktan, maka harga per liternya pun umumnya lebih tinggi. Namun belum tentu bahwa jika mengisi bensin ber-oktan tinggi pada mesin motor kita, kemudian akan menghasilkan tenaga yang lebih tinggi juga.

Dianjurkan mengisi bensin sesuai nilai rasio kompresi (kecuali ada modifikasi lain). Semakin TINGGI nilai oktan, maka bensin semakin lambat terbakar (dikarenakan titik bakarnya lebih tinggi). Semakin TINGGI nilai oktan, maka bensin lebih sulit menguap (penguapan rendah). Bensin yang gagal terbakar (akibat oktan terlalu tinggi), bisa menyebabkan penumpukan kerak pada ruang bakar atau pada klep

Berikut adalah maping dari angka oktan dengan rasio kompresi motor.
Pertamax Plus : 95 ==> 10:1 ~ 11:1
Pertamax : 92 ==> 9:1 ~ 10:1
Premium : 82 ==> 7:1 ~ 9:1.



Berikut daftar bahan bakar motor dan mobil sesuai rasio kompresi :

YAMAHA
Vega-R (9.3:1) Pertamax
Vega-ZR (9.3:1) Pertamax
Mio (8.8:1) Premium
Jupiter (9.0:1) Premium
F1ZR (7.1:1) Premium
RX-KING (6.9:1) Premium
YT 115 (7.2:1) Premium
RZR (7:01) Premium
Nouvo (8.8:1) Premium
Crypton (9.0 : 1) Premium
Yamaha Alfa (7.2 : 1) Premium
Yamaha RXZ (7.0 : 1) Premium

Jupiter-Z (9.3:1) Pertamax
Jupiter MX-135LC (10.9:1) Pertamax Plus
Scorpio-Z (9.5:1) Pertamax
VIXION (10.4:1) Pertamax/pertamax plus
Majesty 125 (11:01) Pertamax Plus
Scorpio (9.5:1) Pertamax

SUZUKI
Satria FU (10.2:1) Pertamax/pertamax plus
Shogun New FL125 Series (9.6 : 1) Pertamax
Shogun FD125 X (9,5 : 1) Pertamax
Thunder 125 (9.2 : 1) Premium/Pertamax
Spin 125 (9.6:1) Pertamax
SkyWave 125 (9.6 :1) Pertamax

KAWASAKI
Kawasaki Blitz R 53 mm x 50.6mm 111 cc 9.3 : 1 (Pertamax)
Kawasaki Athlete 56 mm x 50.6mm 124.6 cc 9.8 : 1 (Pertamax)
Kawasaki Ninja 250 62 mm x 41.2mm 2x 250 cc 11.5 : 1 (Pertamax Plus)
Kawasaki KLX 250 72 mm x 61,2mm 249cc 11 : 1 (Pertamax Plus)
Kawasaki Ninja RR 150 7.2 : 1 (Premium)
Kawasaki Kaze 9.3 : 1 (Pertamax)

HONDA
Honda GL 100 52 x 49.5mm 105.1 cc 9.2 : 1 (Pertamax)
Honda GL Max 56.5 x 49.5mm 124.1 cc 9.2 : 1 (Pertamax)
Honda GL Pro 61.0 x 49.5mm 144.7cc 9.2 : 1 (Pertamax)
Honda Supra 50.0 x 49.5mm 97.1 cc 8.8 : 1 (Premium)
Honda Tiger 63.5 x 62.2 mm 196.9cc 9.0 : 1 (Premium)
Honda Megapro 63,5 x 49,5 mm 156.7cc 9.0 : 1 (Premium)
Honda CS-1 58 x 47,2 mm 124.7 cc 10.7 : 1 (Pertamax Plus)
Honda Supra PGM FI 52,4 x 57,9 mm 124.8cc 9.0 : 1 (Premium)
Honda Blade 50 x 55,6 mm 109.1 cc 9.0 : 1 (Premium)
Honda Vario 10, 7:1 (Pertamax Plus)
Honda CBR 150 R 11:1 ( Pertamax Plus)
Honda Beat 125 9.2 : 1 (Pertamax)
Honda Scoopy 108 cc 9.2 : 1 (Pertamax)
Honda Absolute Revo 110 cc 9 : 1 (Premium)

Mobil :

Suzuki
Swift 9,5:1 Pertamax
Grand Vitara 10,5:1 Pertamax Plus
Grand Escudo XL-7 9,5:1 Pertamax
Escudo 2.0 9,3:1 Premium/Pertamax
Escudo 1.6 9,5:1 Pertamax
Baleno 9,5:1 Pertamax
Aerio 9,5:1 Pertamax
APV 9,0:1 Premium/Pertamax
Karimun 8,8:1 Premium
Katana 8,8:1 Premium
Carry 1.5 8,9:1 Premium
Carry 1.0 8,9:1 Premium
Carry 1.3 9,0:1 Premium
Esteem 1.6 GT 9,5:1 Pertamax
Side Kick 8,9:1 Premium
SX-4 10,5:1 Pertamax Plus

Honda
Jazz I-Dsi 10,4:1 Pertamax/Pertamax Plus
Jazz V-Tec 10,1:1 Pertamax/Pertamax Plus
City I-DSi 10,5:1 Pertamax/Pertamax Plus
City V-Tec 10,1:1 Pertamax/Pertamax Plus
Stream 1.7 9,5:1 Pertamax
Stream 2.0 9,4:1 Pertamax

Toyota
Starlet XL 1.000 cc 9,3:1 Premium/Pertamax
Starlet SE 1.3 9,5:1 Pertamax
Twin Cam 9,5:1 Pertamax
Great Corolla 9,5:1 Pertamax
Avanza 11:1 Pertamax Plus
Yaris 10,5:1 Pertamax/Pertamax Plus
Innova 2.0 9,8:1 Pertamax
Innova 2.7 9,7:1 Pertamax
Rush 10:1 Pertamax/Plus
Alphard 2400 cc 9.8 : 1 Pertamax
Alphard 3500 cc 10.8 : 1 Pertamax Plus

Nissan
X-Trail 2.0 9,9:1 Pertamax
Terano 8,3:1 Premium
Livina 1.5L 10,5:1 Pertamax/Pertamax Plus
Livina 1.8L 9,9:1 Pertamax
Sentra Genesis 9,3:1 Pertamax
Cefiro 9,5:1 Pertamax/Pertamax Plus

Daihatsu
Xenia EJ (vvti) 11:1 Pertamax Plus
Terios 10,0:1 Pertamax/Pertamax Plus
Taruna EFI 9,5:1 Pertamax/Pertamax Plus
Sirion 10,0:1 Pertamax/Pertamax Plus
Ceria 9,5:1 Pertamax

Mitsubishi
Eterna DOHC 9,8:1 Pertamax
Eterna SOHC 8,5:1 Premium
Lancer DOHC 10,5:1 Pertamax Plus

Dikutip dari berbagai Sumber (wikipedia dll.)

Bahkan update terbaru bisa membuat anda tetap percaya dengan penggunaan premium untuk kendaraan anda. lihat saja informasinya...
Sekarang pertamina sudah tidak menggunakan timbal lagi ke bensin premium, sebagai penggantinya digunakan HOMC(High Octane Mogas Component) yg lebih ramah lingkungan. Jadi premium untuk saat ini sudah bebas timbal.



Ini juga pesan buat anda yang suka membeli mobil build up...
Hati2 ada sedikit perbedaan antara perhitungan nilai oktan di Indonesia dg di Luar negeri, di kita nilai oktan hanya dari RON (Research octane number) nah klo di luar negeri rata2 makenya adalah perhitungan dari rata2 RON dan MON (motor octane number), misalnya nilai oktan 87-88 di Amerika sama aja ky nilai oktan 92++ di Indonesia,jadi klo yg beli kendaraan import ati2 aja, dan baca buku manualnya dg hati2.

Bagaimana??? apakah anda masih tetap memilih tanpa melihat spesifikasi kendaraan anda??? Semoga artikel ini bermanfaat ya... ok brrooww

Selasa, 04 Desember 2012

Diagnostic Awal Kerusakan Injeksi, Lihat Dari Lampu Indikator

Diagnostic Awal Kerusakan Injeksi, Lihat Dari Lampu Indikator


Teknologi injeksi layaknya manusia, jika kurang sehat bisa mengeluh. Tidak diam saja, tiba-tiba mati. Keluhan sistem injeksi bisa dilihat lewat perangkat bernama self diagnostic.

Ada juga yang menyebut lampu indikator ini dengan MIL atau malfunction indicator lamp. "Berupa lampu yang akan menyala memberitahukan kondisi kerusakan pada sistem injeksi," ungkap Sarwono Edhi dari Technical Training & Service Div PT Astra Honda Motor (AHM).

Problem bisa diketahui dari kedipan lampu indikator bersimbol sistem bahan bakar di panel spidometer. Hampir semua merek motor, indikator ini bekerja dengan cara yang sama.

Ada dua kedipan dasar, kedipan panjang dan pendek. Kedipan panjang diartikan sebagain puluhan. Berkedip panjang selam satu kali artinya 10, berkedip panjang dua kali artinya 20. Kalau berkedip pendek satu kali berari 1, dan seterusnya.

Misalnya berkedip dua kali panjang dan satu kali pendek atirnya 21. Nah, lewat terjemahan angka-angka inilah masalah bisa diketahui. Dia kode angka mewakili masalah yang terjadi. 

Ambil contoh dari tabel kerusakan Yamaha V-ixion, Honda CBR 250R dan Kawasaki D-Tracker 250, ini problem yang bisa diketahui.

Yamaha V-IXION
12 = Crankshaft Postion Sensor (tidak ada sinyal normal yang diterima dari sensor ini).
13 = Intake Air Pressure Sensor (open atau short circuit).
14 = Intake Air Pressure Sensor.
15 = Throttle Position Sensor (open atau short circuit).
16 = Throttle Position Sensor (macet atau lengket).
21 = Coolant Temperature Sensor (open atau short circuit).
22 = Intake Air Temperatur Sensor.
30 = Lean Angle Sensor (macet atau rusak).
33 = Ignition Coil.
39 = Fuel Injector (open atau short circuit).
41 = Lean Angle Sensor.
44 = Pembacaan dan penulisan pada E2PROM eror).
46 = suplay power ke sistem fuel injection tidak normal.
50 = kerusakan memory ECU.

Honda CBR 250R
1 = MAP Sensor
7 = ECT Sensor
8 = Throttle Position Sensor
9 = IAT Sensor
12 = Injector
21 = O2 sensor
29 = IACV (Idle Control Valve) Sensor
54 = Bank Angle Sensor

Kawasaki D-Tracker 250
11 = Sensor main throttle tidak berfungsi
12 = Sensor tekanan udara inlet tidak berfungsi
13 = Sensor temperatur udara inlet tidak berfungsi
14 = Sensor temperatur air inlet tidak berfungsi
21 = Sensor crankshaft tidak berfungsi
24 = Sensor kecepatan tidak berfungsi
31 = Sensor Vehicle down tidak berfungsi
32 = model TH atau EUR, sensor subthrottle tidak berfungsi; model IN, aktuator katub subthrottle tidak berfungsi
33 = Sensor oksigen tidak aktif
41 = Injector tidak berfungsi
46 = Relay pompa bahan bakar tidak berfungsi
51 = Koil pengapian tidak berfungsi
56 = Relay kipas radiator tidak berfungsi
62 = model TH atau EUR, aktuator katub subthrottle tidak berfungsi; model IN, sensor subthrottle tidak berfungsi
64 = Katup pengganti udara tidak berfungsi
67 = Pemanas sensor oksigen tidak berfungsi

Tapi tidak semua merek motor memiliki indikator yang langsung bisa mengirimkan kode kerusakan secara spesifik. Seperti pada Piaggio dan Vespa, lampu indikator di panel speedometernya hanya menunjukan ada masalah ketika menyala tanpa merinci secara spesifik apa yang rusak.