Selasa, 04 Desember 2012

Apa itu Electronic Fuel Injection (EFI)

Apa itu Electronic Fuel Injection (EFI)

Electronic Fuel Injection (EFI)
Bagian dari mesin bakar yang sangat penting adalah proses pencampuran antara bahan bakar(bensin) dengan udara, yang dikirim ke ruang pembakaranan. Jika campuran bensin kurang atau berlebihan maka hasil yang didapatkan tidak maksimal, misalnya tenaga kurang atau terlalu boros. Proses pencampuran ini dikerjakan oleh karburator sebelum dikembangkannya sistem injeksi. Sistem injeksi sendiri ditemukan sekitar tahun 1950an, dan mulai tahun 1980an semua kendaraan khususnya eropa, telah menggunakan sistem injeksi ini.
Sistem injeksi ini mempunyai bagian-bagian yang harus diperhatikan, yakni:
1. Bagian sistem aliran bahan bakar
2. Bagian sistem aliran udara
3. Bagian sistem kontrol elektronis

Bagian sistem aliran bahan bakar
Sistem aliran bahan bakar ini terdiri dari:
  • Fuel tank, berfungsi sebagai penampung bahan bakar
  • Fuel pump, berfungsi memompa bahan bakar dari tangki ke sistem selanjutnya
  • Fuel filter, berfungsi filter bahan bakar sebelum masuk ke fuel rail
  • Fuel delivery pipe(fuel rail), sebagai pipa aliran bahan bakar
  • Fuel injector, sebagai penyemprot ke masing-masing ruang bakar(manifold)
  • Fuel pressure regulator, sebagai pengatur tekanan
  • Fuel return pipe, sebagai pipa aliran bahanbakar kembali ke tangki bahan bakar


Bagian sistem aliran udara
Sistem aliran udara ini terdiri dari:
  • Air cleaner/filter, berfungsi sebagai penyaring udara dari pertikel-partikel sebelum diteruskan ke bagian selanjutnya
  • Air flow meter, berfungsi untuk mengukur jumlah massa udara yang masuk
  • Throttle valve, berfungsi mengatur jumlah udara yang masuk
  • Air intake chamber
  • Intake manifold runner
  • Intake valve


Bagian sistem kontrol elektronis
Pada sistem ini terdapat beberapa sensor sebagai masukkan dan beberapa actuator sebagai outputnya.
Sensor-sensor:
  • Mass Airflow sensor, untuk mengetahui jumlah massa udara yang masuk
  • Coolant temperature, mengetahui temperature mesin
  • Oxygen sensor, mengukur kadar kandungan oksigen di exhoust
  • Throttle position sensor, untuk mengetahui posisi bukaan dari throttle valve
  • Manifold absolute pressure sensor, untuk mengetahui tekanan di intake manifold(saluran hisap)
  • Engine speed sensor, mengetahui kecepatan putaran mesin (rpm)
untuk actuator, pada prinsipnya terdiri dari:
  • injector, untuk menyalurkan/menyemprotkan bahan bakar.
  • Igniter, untuk pengapian
ketiga sistem diatas harus dalam kondisi normal, agar sistem EFI bisa bekerja dengan sempurna. Untuk tiap-tiap pabrikan tentu saja mempunyai pengembangan yang berbeda-beda, namun demikian prinsip yang digunakan tetap sama. Pengembangan yang terjadi biasanya pada penggunaan sensor yang mempunyai karakteristik yang berbeda, posisi penempatan sensor, jumlah sensor yang digunakan. Semuanya mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing.

Cara Kerja Mesin 4tak

Cara Kerja Mesin 4tak


Cara kerja dari mesin 4tak sendiri ada 4 tahap,yaitu:
1. Langkah Hisap
2. Langkah Kompresi
3. Langkah Usaha
4. Langkah Buang
pertama,piston yg memiliki tekanan negatif(bergerak dari atas ke bawah) menghisap kabut bensin ke ruang bakar..
kedua,piston naik kembali ke atas dan membuat tekanan..
ketiga,busi memercikkan api ketika tekanan udara mencapai syarat pembakaran..
keempat,sisa pembakaran dibuang ke knalpot/exhaust..
Keuntungan:
-Karena proses pemasukan,kompresi, kerja, dan buang prosesnya berdiri sendiri-sendiri sehingga lebih presisi, efisien dan stabil, jarak putaran dari rendah ke tinggi lebih lebar (500- 10000rpm).
-Kerugian langkah karena tekanan balik lebih kecil dibanding mesin dua langkah sehingga pemakaian bahan bakar lebih hemat.
-Putaran rendah lebih baik dan panas mesin lebih dapat didinginkan oleh sirkulasi oli
-Langkah pemasukan dan buang lebih panjang sehingga efisiensi pemasukandan tekanan efektif rata-rata lebih baik 
-Panas mesin lebih rendah dibanding mesin dua langkah
Kerugian:
-Komponen dan mekanisme gerak klep lebih banyak, sehingga perawatan lebih sulit
-Suara mekanis lebih gaduh
-Langkah kerja terjadi dengan 2 putaran poros engkol, sehingga keseimbanganputar tidak stabil, perlu jumlah silinder lebih dari satu dan sebagai peredam getaran
Ciri-ciri umum 4 TAK:
-Gas buang tidak berwarna (kecuali ada kerusakan)
-Bahan bakar lebih irit
-Menggunakan satu minyak pelumas untuk melumasi ruang engkol, piston,dinding silinder dan transmisi

Cara Setel Klep Motor (HONDA)

Cara Setel Klep Motor (HONDA)

Ada kalanya Anda mecoba sendiri melakukan penyetelan klep pada motor Anda, tapi perlu diingat, bahwa setelan klep yang benar atau salah akan mempengaruhi terhadap performa mesin Sepeda Motor.
Berikut ini saya tulis secara ringkas cara cara yang tepat menyetel klep pada Sepeda Motor Honda.
1. Persiapkan alat-alat antara lain; 
  • Obeng (-) besar 
  • Kunci T 17 (untuk motor Supra X 125/Kharisma) 
  • Kunci T 14 (untuk motor Supra Fit, Tiger) 
  • Ring 8-9 (untuk motor tipe bebek) 
  • Ring 10-11 (untuk motor tipe Sport) 
  • Ring 17 (untuk motor tipe Sport) 
  • Ring 24 (untuk motor tipe bebek) 
  • Fuller gauge 1set 
  • Valve Adjusting wrech (kunci klep) 
2. Buka kedua tutup klep (In dan Ex) dengan menggunakan kunci Ring 17(tipe bebek) atau Kunci Ring 24(tipe Sport)
3. Awalnya posisikan agar kondisi valve bebas atau posisi piston pada Titik Mati Atas (TMA), dengan cara buka tutup magnet pada blok mesin kiri dengan menggunakan Obeng (-) besar (ada 2 buah ), pergunakan kunci Ring 14/17 untuk memutar poros engkol berlawanan dengan jarum jam.
4. Sambil memutar poros engkol, perhatikan pada saat valve In bergerak, lihat pada lubang kecil di blok magnet, posisikan tanda T pada garis lurus di lubang kecil blok magnet.
5. Kemudian pegang dan gerak-gerakkan kedua klep untuk memastikan keduanya sudah dalam posisi bebas.
6. Jika langkah diatas sudah benar, maka lakukan penyetelan valve dengan ukuran untuk tiap-tiap motor sbb;
  • Tipe Sport (Tiger,Mega Pro,GL Pro,Phantom) ukuran = 0,10mm (±0,01mm). 
  • Tipe Bebek (Supra Fit, Grand, Legenda, Supra X, Win, GL 100) ukuran celah klep = 0,05mm (±0,01mm). 
  • Tipe Bebek (Supra X 125, Kharisma, Kirana) ukuran celah klep = 0,03mm (±0,01mm) 
  • Tipe Matik (Vario) ukuran celah klep ( Klep In : 0,15mm (±0,01mm) Klep Ex : 0,26mm (±0,01mm)
Cara penyetelannya adalah, kendorkan mur pengikat tappet adjuster (baut stelan klep) dengan menggunakan Ring 8-9 / 10-11
7. Lalu letakkan Fuller gauge sesuai ukuran celah klep kedalam ujung batang klep, putar tappet adjuster(baut stelan klep) sampai terasa apabila fuller gauge di tarik terasa seret dan apabila didorong tidak bisa.
8. Kemudian keraskan lagi mur stelan klep dan cek ulang hasil stelan klep tadi, sampai hasilnya tepat, (bila fuller gauge terasa ditarik seret dan di dorong tidak bisa)
9. Tutup kembali semua komponen yang tadi dibuka kemudian rasakan hasilnya. MANTAP!

Cara Mengatasi Motor Haus Oli Akibat Bore Up

Cara Mengatasi Motor Haus Oli Akibat Bore Up



1. Boring Tebal

Usahakan boring atau liner dibuat tebal, kalau bisa minimal 5mm. Atau minimal seperti asli pabrik tebal boringnya. Kalau tipis berakibat panas dan suhu mesin cepat naiknya. Akibatnya oli mesin jadi gampang menguap. Lebih repot lagi, boring yang tipis mudah memuai dan juga gampang bikin macet mesin. Pilih juga bahan boring yang direkomendasi oleh mekanik berpengalaman biasa bikin motor balap road race. Pilih juga tukang bubut atau korter spesialis. 

2. Celah Piston Dan Boring
Celah antara piston dan liner sangat menentukan hasil bore up. Ini termasuk kunci utama dalam melakukan bore up. Kalau faktor ini gagal, power mesin rendah dan oli cepat abis.  Clearance atau kerenggangan piston dengan liner untuk harian dipatok 0,01 dan maksimal 0,02mm buat balap. Kalau buat balap dibikin longgar karena nggak usah inreyen. Jika lewat dari 0,3mm kompresi jadi kurang padat. Paling penting pilih tukang korter yang bagus. 

3. Jarak Gap Ring Piston
Perhatikan ring piston. Ini juga faktor utama keberhasilan bore up. Kalau motor bore up sudah lama dipakai, biasanya haus oli. Pertama yang harus dicek salah satunya adalah ring piston dulu.
Mengukurnya gampang. Masukkan ring piston ke dalam boring dan dorong menggunakan piston. BAru deh kemudian mengukur celah atau gap pertemuan dua ujung ring piston.
Kondisi normal, celanya berkisar antara 0,2 sampai 0,3mm. Kalau memang terbukti kurang dari itu harus segera ganti ring piston
 
4. Rasio Kompresi
Banyak yang salah pengertian. Rasio kompresi motor bore up dibuat sangat tinggi. Padahal kalau dipakai untuk harian agar awet maksimal 12 : 1. 
Kasih tahu mekanik dibuat maksimal untuk harian kalau bisa 11 : 1. Mengingat kondisi bahan bakar lokal yang oktannya rendah. Kalau 12,5 : 1 saja harus menggunakan Pertamax Plus. 
Kecuali kalau memang buat balap, bisa tinggi sampai 13,5 : 1. Itu juga masih tergantung dari bahan bakar yang digunakan. Harus diisi dengan racing fuel atau bensol.
5. Kualitas Pelumas
Oli atau pelumas harus dipilih yang tahan menguap. Biasanya yang punya kekentalan lebih tinggi. Misalnya SAE 20 atau SAE 15. Karena semakin encer identik dengan mudah menguap. 
Menurut saran dari kebanyakan mekanik, menggunakan pelumas yang punya base oli dari minyak bumi saja. Sebab oli sintetik yang bagus, biasanya juga dibanderol dengan harga lumayan mahal.
Jadi, buat apa menggunakan pelumas sintetik murah. Sebab hitungan ekonominya sebenarnya tidak ada pelumas sintetik yang murah. 
6. Pasang Nafas Oli
Akibat tekanan yang tinggi, suhu akan ikut tinggi dan bikin bocor kompresi. Untuk itu harus pasang lubang nafas oli. Kalaupun sudah ada lubang nafas oli dari pabrik, dikhawatirkan masih kurang besar.
Pasang nafas oli di tutup klep. Biasanya dijual pagoda atau tutup klep yang sudah ada lubangnya. Tinggal disambung slang. Atau pasang nafas oli dari tutup lubang pengisian oli disambung slang juga. 
7. Selimut Mesin
Di mator harian atau standar, macam motor matik dari pabrik dilengkapi selimut mesin yang fungsinya untuk aliran udara dari kipas magnet. Jangan dilepas alias harus tetap dipasang. Supaya kalau jalan macet atau jalan pelan tetap ada hembusan udara. Apalagi mesin matik tertutup cover bodi.
8. Setting Spuyer Pilot Jet dan Main Jet
Seting spuyer yang pas. Jangan kelewat irit berakibat mesin panas. Bisa dilihat dari warna kepala busi keputihan. Atau jangan kelewat banyak bensin yang berakibat banyak kerak bikin mesin tidak bertenaga. Spuyer pas cirinya pada kepala busi merah bata.

Durasi Knalpot 2 Tak

Durasi Knalpot 2 Tak


EXHAUST DURATION 

RPM DURASI 
10.000 – 11.000 194 ° - 196
11.000 – 12.000 196 ° - 198 °
12.000 – 13.000 198 ° - 200 °
13.000 – 14.000 200 ° - 202 °
14.000 -15.000 202 -204 
RUMUS DURASI EXHAUST
T² + R² - L².
2 X R X T
PANJANG STANG PISTON
DURASI EXHAUST = ( 180° – CO) X 2 
T = R + L – E
R = STROKE DIBAGI 2
L = PANJANG STANG PISTON
E = TINGGI LOBANG EXHAUS DARI T.M.A
Contoh : YAMAHA F1Z-R
STROKE : 52mm TINGGI EXHAUS : 26mm PANJANG CONROD : 96mm 
R = 52 : 2 = 26mm E = 26mm L = 96mm T = 26 + 96 – 26 = 96mm
6² + 26² - 96².
2 X 26 X 96
D = ( 180° – COS ) X 2
D = ( 180° – COS O,135416666 ) X 2
D = ( 180° – 82,217 ) X 2
D = 97,782 X 2 = 195,565  →  DURASI EXHAUS = 196°   →  11.000 RPM
Contoh 2 :
STROKE : 52mm TINGGI EXHAUS : 25mm PANJANG CONROD : 96mm
R = 52 :2 = 26mm E = 25mm L = 96mm T = 26 + 96 – 25 = 97mm
97² + 26² - 96².
2 X 26 X 97
D = ( 180° – COS ) X 2 
D = ( 180° – COS O,172283901 ) X 2
D = ( 180° – 80,079 ) X 2
D = 99,921 X 2 = 199,842   →  DURASI EXHAUS = 200°   →  13.000 RPM
* EXHAUST PIPE *
L = ED X42545
RPM
L = PANJANG IDEAL KNALPOT . ( dari PISTON sampai pertengahan CONE BAFLE ).
ED = Exhaust Durasi
RPM = Putaran mesin pada Exhaust Durasi
Contoh : EXHAUST : 26mm DURASI : 196° RPM : 11.000
L = 196 X 42545 = 758mm
11.000
Contoh 2 : EXHAUST : 25 mm DURASI : 200° RPM : 13000
L= 200 X 42545 = 654.5 mm
13.000

* HEADER *

Ø Port dalam exhaust : 100cc → 140cc 34mm → 40mm 
140cc → 175cc 40mm → 46mm
Panjang header : 7.8 → 8.8 x Ø Port exhaust
Sudut header : 1° → 2° max ( road race ) . 2° → 3° max ( motocross )

* FLANK *
Jarak antara piston dan header : 60mm – 80mm

* DIFFUSER *
Sudut Diffuser : Stage 1 = 6.5 ° → 7.5 °
Stage 2 = 4.5 ° ; 7.5 °
Stage 3 = 4.5° ; 7.5° ; 9° → 10°
BELLY *
Ø Belly 2 → 3 X Ø Port exhaust Panjang belly = L – ( Header + Diffuser + ½ Bafle )

* BAFLE *
Sudut Bafle 9° - 12°

* STINGER *
PANJANG PIPA Ø DALAM PIPA
125cc – 145cc ------ 150mm – 265mm 19mm – 23mm
145cc – 175cc ------ 150mm – 320mm 22mm – 27mm